Sally Fitzgibbons Foundation

Beginning the Academic Essay

PEMBELAJARAN BERBASIS KOMUNITAS BERKEARIFAN LOKAL PRAKARYA DALAM MENDORONG WIRAUSAHA SISWA SMPN 17 KENDARI

Suhardin
SMPN 17 Kendari, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara
[email protected]

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Abstrak

Pembelajaran prakarya pada SMPN 17 Kendari bukan tanpa kendala. Masalah sarana dan dana sangat berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. Sehingga perlu ada upaya yang positif. Mengadopsi kehidupan sosial yang tidak terlepas dari hubungan antar personal serta pemanfaatan budaya dan lingkungan menjadi alternatif yang dipilih. Pembelajaran dikemas dalam sebuah komunitas kelas melalui pemanfaatan teknologi untuk kegiatan bimbingan, perencanaan dan penyiapan produk hingga berwirausaha. Tujuannya untuk mengembangkan pembelajaran, meningkatkan kualitas pembelajaran aspek pengetahuan dan keterampilan serta mendorong kegiatan wirausaha dan literasi. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan sampel kelas IX.7 (36 orang) pada semester ganjil Tahun Pembelajaran 2017/2018. Komunitas yang digunakan berbasis WhatsApp Ekspamnes (Executive People Anti Mainstream of Nine Seven) dan pemasaran produk melalui grup facebook Prase (Prakarya Seventeen) Suhardin Shoop. Pembelajaran prakarya berkearifan lokal berbasis komunitas telah mendorong kemampuan berwirausaha. Hasil analisis diskriptif menggambarkan terdapat perbedaan dan peningkatan tes pengetahuan dan observasi aspek keterampilan siswa. Keuntungan berwirausaha menjadi solusi pendanaan pelaksanaan kegiatan praktik prakarya dalam kelas. Wirausaha lainnya berupa penjualan dua buah buku antologi siswa yang telah diterbit dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

Kata kunci : komunitas. kearifan lokal. wirausaha. prakarya.

A. PENDAHULUAN

Pembelajaran bukan hanya sekedar memberikan pemahaman konsep, akan tetapi konsep yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan menjadi lebih penting. Itulah makna belajar yang sesungguhnya. Mendekatkan siswa dalam kehidupannya, bukan sekedar pada tahap mengenal. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar menjadi lebih utama. Lingkungan merupakan sumber budaya masyarakat. Sehingga nilai-nilai lokal harus tetap dipertahankan sebagai potensi positif.
Pembelajaran prakarya tidak terfokus pada hasil produk semata. Kriya yang dibuat harus memiliki nilai jual dalam masyarakat. Faktor kebutuhan tersebut menjadi daya tarik untuk dikembangkan menjadi lahan usaha. Namun siswa masih tahap belajar berwirausaha. Oleh karena itu perlu bimbingan yang baik. Salah satunya melalui komunitas kelas dengan memanfaatkan potensi lingkungan budaya setempat.
Kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah menyebabkan kegiatan prakarya tidak maksimal. Ketiadaan ruang keterampilan dan penyiapan alat serta bahan praktikum terhambat dengan pendanaan sekolah menjadi kendala utamanya. Sehingga perlu adanya upaya agar pembelajaran dapat dijalankan hanya dengan berteori semata. Mewujudkannya melalui peningkatan kreativitas dalam membiayai sebagaian kebutuhan pembelajaran adalah solusi yang dipilih.
Terdapat empat pendekatan dalam pengembangan kreativitas dalam diri seseorang yakni personal, proses, dorongan dan produk. Tindakan kreatif akan muncul dari kepribadian yang berinteraksi pada lingkungan. Prosesnya dimulai dari persiapan hingga verifikasi. Akan tetapi press harus ada, baik secara phisikogis maupun lingkungan sosial. Tahap terakhir adalah hasil yang dapat teramati dengan sifat orisinil, bermakna dan terbaru (Nurani dan Sujiono, 2017 : 39).
Tugas yang diberikan secara bertahap dalam waktu tertentu dapat dinilai melalui penilaian proyek. Tugas itu dapat berupa sebuah investigasi ataupun penelitian sederhana. Salah satu contohnya adalah kemampuan mengaplikasikan. Aspek yang dapat dinilai berupa pengelolaan, relevansi dan keaslian (Kunandar, 2014 : 286).
Pembelajaran berbasis keterampilan tidak menitikberatkan pada transfer pengetahuan akan tetapi proses mencari pengatahuan. Oleh karena itu, siswa bukanlah dipandang sebagai subjek karena keterlibatan aktif dalam pembelajaran sangat diperlukan. Sedangkan guru bertindak sebagai aktor pembimbing atau fasilitator serta mengkoordinir siswa dalam belajar (Rizema, 2013 : 56).
Mengakses informasi dapat dilakukan dimana saja, asalkan jaringan internet tersedia. Akses yang dapat digunakan telah berkembang dalam bentuk media sosial (facebook, blog maupun twitter). Salah satu pendukungnya adalah handphone yang dapat mengakses internet dengan mudah. Bentuk pertemanan yang makin digemari menyebabakan facebook makin banyak penggunannya. Pemanfaatan facebook sebagai media pembelajaran dapat berbentuk interaksi antar anggota dalam bentuk grup belajar. Makin banyak fitur yang dapat mendukung interaksi antar anggota (Mudlofir dan Rusydiyah, 2016 : 173).
Aspek ekonomi dan sosial harus mendukung sebuah model baru dalam belajar. Hal ini cakupannya berupa kecakapan dasar, seperti kemampuan membuat sebuah keputusan dalam pemcehan masalah, belajar dari orang lain, kerja dengan disiplin dan mengatasi berbagai penghambat (Gannis, 2016 : 8).
Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pembelajaran berbasis komunitas berkearifan lokal prakarya dalam mendorong wirausaha berteknologi informasi pada siswa SMPN 17 Kendari?”
Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperkenalkan praktik wirausaha melalui pemanfaatan nilai budaya lokal pada siswa dalam pembelajaran prakarya, meningkatkan kualitas pembelajaran melalui komunitas berbasis kearifan lokal serta membantu program sekolah dalam kewirausahaan.

B. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif yang bersifat eksperimen sebagai berupaya untuk melaksanakan pembelajaran yang berbasis komunitas pada mata pelajaran prakarya. Hal ini dilakukan untuk mendorong kemampuan wirausaha siswa sekaligus mencari solusi pemecahan masalah pembelajaran yang terkendala dana dan sarana.
Komunitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kumpulan siswa yang dihimpun dalam suatu sarana interaksi sosial pada media sosial. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi dominan dalam aktivitas komunitas. Sarana tersebut digunakan sebagi wadah pembimbingan eksternal kelas dan pemanfaatanya sebagai pemasaran produk hasil pembelajaran. Kegiatan interaksi eksternal dan bimbingan dilakukan melalui komunitas WhatsApp Expamnes sedangkan pemasaran produk melalui grup facebook Prase Suhardin Shoop. Ekspamnes merupakan komunitas buatan siswa yaitu akronim dari Executive People Anti Mainstream of Nine Seven sedangkan Prase merupakan akronim buatan guru yang bermakna Prakarya Seventeen.
Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IX.7 SMPN 17 Kendari sebagai kelas sampel. Kegiatan ini dilakukan pada tahun pembelajaran 2017/2018 semester ganjil. Jumlah siswa yang menjadi objek penelitian sebanyak 36 orang terdiri 5 orang laki-laki dan 31 orang perempuan.
Tekni pengumpulan data dilakukan dalam beberapa bentuk. Efektivitas proses, produk dan proyek wirausaha dilakukan melalui kegiatan observasi. Hasil belajarnya melalui tes serta kuis bagi orang tua siswa.
Analisis data dilakukan secara diskriptif. Data observasi yang diperoleh dilakukan pengolahan dengan membandingkan rata-rata dan persentase capaian semua aspek yang ingin dilihat. Sedangkan kemampuan konsep siswa diolah melalui validasi hasil tes pembelajaran dengan membandingkan tes sebelum dan sesudah pembelajaran.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pembelajaran Prakarya dan Permasalahannya
Parkarya sebagai matapelajaran baru dalam kurikulum menjadi berkah sekaligus membawa tantangan. Keberadaannya sebagai muatan lokal menjadi wadah sekolah mengembangkan kegiatan pembelajaran yang berkearifan lokal akan lebih mudah. Namun kenyataannya, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh SMPN 17 Kendari. Permasalahan yang ada yakni :
– Pengadaan ruang keterampilan yang belum bisa dipenuhi oleh pihak sekolah.
– Kapasitas guru dalam pelajaran prakarya yang masih minim.
– Buku siswa yang menjadi penunjang pembelajaran tidak mencukupi.
– Hasil produk berupa kriya siswa sebagian besar hanya dibiarkan rusak.
– Dana sekolah yang minim sehingga pembelajaran hanya melalui metode demosntrasi dan tugas mandiri.
Berdasarkan hal-hal tersebut, dianggap perlu adanya sebuah upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Tentunya sifat efektif dan efisien menjadi pertimbangan utamanya.

2. Peran Komunitas dalam Pembelajaran Prakarya
Kehidupan sosial sangat erat dengan sebuah komunitas, tidak terkecuali dalam kehidupan siswa. Salah satunya melalui media sosial. Keberadaan komunitas expamnes pada kelas IX.7 di SMPN 17 Kendari merupakan warna lain kehidupan sosial mereka. Media ini dibuat melalui aplikasi WhatsApp handphone. Konsep komunitasnya berasal dari siswa, oleh siswa dan untuk siswa.
Bergabung dalam komunitas yang berbeda zaman menjadi tantangan bagi seorang guru. Sebagai tamu, mengikuti alur dan berusaha aktif dengan peran berbeda menjadi kunci sukses adaptasinya. Sarana ini kemudian menjadi wadah komunikasi pembelajaran berupa bimbingan eksternal kegiatan yang dilakukan.
Hubungan timbal balik yang dilakukan dalam komunitas sosial dunia maya tidak sebatas hal tersebut. Dalam mendukung pembelajaran, dibentuk komunitas khas yang disebut Prase Suhardin Shop. Wadah ini dibuat pada aplikasi facebook. Komunitas ini dibentuk oleh guru, oleh guru dan siswa serta untuk guru dan siswa. Sarana ini menjadi bentuk komunikasi sosial pada orang tua dan masyarakat sekitar siswa. Berbagai produk hasil belajar terpajang pada aplikasi ini. Karena sifatnya terbuka maka guru, orang tua maupun masyarakat umum menjadi pamantau aktifitas yang terjadi. Salah satu strategi yang dilakukan adalah pengelompokkan siswa yang berdekatan alamat rumah menjadikan komunitas berjalan baik. Saling membantu tanpa mobilisasi yang jauh, mempermudah siswa dalam penyelesaian produk maupun proyek yang diberikan.
3. Hasil yang Diperoleh
a. Dampak pembelajaran terhadap aspek pengetahuan
Penguasaan konsep menjadi hal terpenting dalam pembelajaran. Aspek ini menjadi salah satu patokan keberhasilan pembelajaran. Artinya materi pokoknya menjadi acuan kegiatan praktik yang dilaksanakan.
Dampak yang muncul diketahui melalui hasil tes kegiatan pembelajaran. Untuk mengetahui pengaruhnya, maka dilakukan dua kali perlakuan yakni tes awal dan akhir pembelajaran. Hasil analisis secara manual serta melalui program SPSS terlihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Hasil Analisis Tes Pengetahuan Pembelajaran Prakarya Kelas IX.7 SMPN 17 Kendari.
No Aspek
Prakarya Rata-rata % Tuntas Belajar t-tabel 0,05
awal akhir awal akhir kolerasi probalitas
1 Kerajinan 21,67 75,83 0 72,22 0,419 -20,87
2 Rakayasa 22,22 81,39 0 83,33 0,142 -21,81
3 Pengolahan 21,94 86,39 0 88,89 0,837 -23.74

Nilai batas minimam ketuntasan pembelajaran yang digunakan adalah 70. Berdasarkan tabel tersebut, rata-rata dan persentase ketuntasan berada di atas angka 70. Perlakuan yang sama diberikan pada tiga aspek pembelajaran. Hasil analisis melalui program SPSS, juga mengungkapkan bahwa perbandingan kedua tes yang dilakukan memiliki kolerasi yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata. Kedua variabel tersebut memiliki nilai tes pembelajaran yang berbeda.

b. Peningkatan nilai proses dan produk pembelajaran
Kualitas produk yang dibuat menjadi nilai ekonomi berwirausaha. Berhubung hal ini merupakan pembelajaran, maka proses pembimbingan menjadi awal kegiatan. Oleh kerena itu, jenis kebutuhan dan kreativitas pembuatannya menjadi hal yang harus diperhatikan, khusunya dalam peluang pemasarannya. Nilai akhir produk akan dinilai melalui proyek kewirausahaan.
Ketiga hal tersebut dilakukan penilaian melalui komunitas siswa yang bekerja dalam kelompok. Berdasarkan lembar observasi, hasil analisisnya dipaparkan pada tabel berikut.
Tabel 2. Hasil Analisis Nilai Keterampilan Pembelajaran Prakarya Kelas IX.7 SMPN 17 Kendari.
No Aspek Prakarya Nilai Rata-Rata Klasikal Aspek Keterampilan Secara berkelompok
Proses Produk Proyek Kewirausahaan Rata-Rata
1 Kerajinan 83,68 74,65 77,08 78,47
2 Rekayasa 89,58 87,32 80,73 85,88
3 Pengolahan 95,66 93,75 96,53 95,31
Rata-rata 89,64 85,24 84,78 86,55

Secara klasikal dalam kelompok, nilai keterampilan siswa megalami kemajuan. Pembiasan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian nilai tersebut. Retorika, kerjasama, cara kerja dan ketepatan pernyataan atau jawaban menjadi patokan penilaian saat presentase. Nilai proses menjadi nilai tertinggi dari aspek keterampilan.
Dorongan siswa untuk membuat produk yang terbaik didasarkan keingina untuk menjualnya melalui komunitas on line kelas. Unsur produk dinilai melalui empat kriteria yakni kerapian, kesesuaian tema, estetika dan ketepatannya. Seiring kemajuan itu, proyek kewirausahaannya juga mengalami peningkatan. Unsur ini dinilai dalam hal publikasi, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, laporan keuangan dan interaksi yang terjadi. Pembelajaran pengolahan mencapai nilai keterampilan tertinggi.

c. Manfaat kegiatan wirausaha kecil-kecilan
Harapan berwirausaha tentunya mendapatkan keuntungan. Demikian pula produk karya siswa yang dipasarkan melalui komunitas on line. Hal ini menjadi sebuah solusi bagi kegiatan pembelajaran. Rekapitulasi hasil penjualan produk tersebut terlihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Penjualan Produk Siswa pada Pembelajaran Prakarya Kelas IX.7 SMPN 17 Kendari.
No Aspek Tema Keuntungan
1 Kerajinan Kerajinan dari Bahan Bekas Rp. 320.000
2 Rekayasa Miniatur Rumah Adat Sulawesi Tenggara Rp. 10.000
3. Pengolahan Olahan daging ayam pada masyarakat Kota Kendari Rp. 533.000
4. Penerbitan buku Antologi Kumunitas Expamnes (Testimoni Pembelajaran Prakarya) Rp. 340.000
Total Keuntungan Rp. 1.203.000

Manfaat yang diperoleh dari hasil kegiatan wirausaha memberikan kontribusi positif. Dampaknya bukan hanya dalam meningkatkan kemampuan keterampilan siswa, akan tetapi mampu menjadi jalan keluar pembelajaran. Dana pada aspek kerajinan menjadi modal bersama dalam praktik di aspek rekayasa. Demikian pula dengan aspek pengolahan.
Selama proses pembelajaran, setiap siswa menuliskan testimoni. Tulisan terbaik dari setiap siswa pada tiga aspek tersebut dibuat menjadi buku antologi. Buku yang diterbitkan menjadi komoditas produk yang dijual. Buku dibuat menjadi dua judul yakni Prakarya Expamnes Inovatif dan Prakarya Expamnes Kreatif. Jumlah buku yang terjual sebanyak 51 buah. Keuntungan tersebut juga digunakan dalam pembiayaan praktek prakarya. Hal lainnya yang dicapai adalah :
– Ruang kelas menjadi ruang praktik keterampilan alternatif.
– Minimnya kapasitas guru dalam pembelajaran diatasi melalui upaya kegiatan komunitas dan kebersamaan bersama keluarga dan lingkungan.
– Akses buku secara on line telah membantu siswa dalam belajar.
– Hasil produk siswa dapat dipasarkan dan dihargai.
– Dana praktik dapat tertanggulangi dari kegiatan wirausaha.

d. Respon siswa dan orang tua dalam pembelajaran
Tanggapan orang tua / wali siswa menjadi sarana untuk mengetahui daya dukung terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan. Respon tersebut diperoleh dari lembar kuisioner yang dibagikan. Pernyataan positif yang diungkapkan berupa pembuatan produk yang bersifat kearifan lokal, pemanfaatan bahan bekas pakai, pembelajaran melalui kebersamaan keluarga, penggunaan internet positif, penggunaan komputer/handphone, penjualan produk secara on line dan pembuatan buku antologi. Hasil analisis jawaban 36 responden terlihat pada tabel berikut.
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Jawaban Responden (Orang Tua / Wali Siswa) tentang Pembelajaran Prakarya Kelas IX.7 SMPN 17 Kendari.
No Perihal Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju
1 Jumlah 123 121 8 0
2 Persentase 48,81% 48,01% 3,18% 0%

Jawaban tidak setuju berasal dari penggunaan internet secara positif dan pemanfaatan komputer/handphone dalam pembelajaran. Berdasarkan catatan yang diberikan orang tua / wali siswa, terungkap tentang keraguan pemanfaatannya yang dapat mengganggu anak dalam belajar serta dua orang yang keberatan karena anaknya tidak memiliki handphone. Namun pembelajaran yang bersifat komunitas, tidak menuntut seorang siswa memilikinya. Keberadaan siswa yang memiliki hal tersebut akan membantu siswa lainnya. Tanggapan tertinggi terlihat pada penerbitan buku antologi siswa. Hal ini mengisyaratkan, orang tua sangat respon terhadap kegiatan penyisipan kegiatan literasi dalam pembelajaran prakarya.

D. SIMPULAN

Simpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah
1. Pemanfaatan nilai kearifan lokal dilakukan dalam pembelajaran melalui komunitas kelas telah mendidik siswa kelas IX.7 SMPN 17 Kendari untuk berwirausaha.
2. Pembelajaran berbasis komunitas yang berkearifan lokal telah mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek pengetahuan maupun keterampilan matapelajaran prakarya.
3. Kewirausahaan dalam pembelajaran telah menjadi solusi pemecahan masalah pembelajaran prakarya dan wadah untuk mendorong program literasi sekolah.
Saran yang dapat diberikan adalah, perlu adanya pengembangan aplikasi penjualan on line. Mengingat wadah yang digunakan masih bersifat umum dan sederhana. Pendekatan personal maupun sosial harus dilakukan dalam penerapan pembelajaran ini. Hal ini disebabkan dari hasil observasi terungkap bahwa, penggunaan internet dan handphone masih mendapatkan kendala bagi orang tua / wali siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Gannis, P. (2016). Trik dan Taktik Mengajar, Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas. Jakarta: PT Indeks.
Kunandar. (2014). Penilaian Autentik Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Mudlofir, A dan Rusydiyah, E.F. (2016). Desain Pembelajaran Inovatif Dari Teori Ke Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Nurani, Y.S dan Sujiono B. (2017). Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Anak, Jakarta: PT Indeks.
Rizema, S. (2013). Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Jogjakarta: Diva Press.

Lampiran 1. Sarana dan Kegiatan Pembelajaran yang Dilaksanakan pada Kelas Sampel

Teknologi Wirausaha dalam komunitas Expamnes dan Prase Suhardin Shop

Produk kriya siswa berkearifan lokal pada aspek kegiatan pembelajaran prakarya

Beberapa dokumen kegiatan Pembelajaran prakarya di kelas sampel

Lampiran 2. Kelengkapan Administrasi

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Dana!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out